Bangun Jam 5 Pagi

September 27, 2014 @

Bagi sebagian besar teman-teman disini, jam 5 pagi bangun dianggap terlalu pagi. Sering saya menerima pertanyaan, “What time do you wake everyday?” Jawab: “5 o’clock”. Kaget semuanya, hahaha…. Setelah saya tanya balik, teman-teman disini terbiasa bangun diatas jam 8 atau kadang jam 9.

Jam biologis saya sudah terbentuk untuk selalu bangun jam 5 pagi, atau paling lambat jam 6 pagi. Setelah shalat subuh (tentu dengan perubahan jam yang berbeda-beda tiap hari), biasanya lari jam 7 pagi sekitar setengah jam. Lari pagi sangat tergantung pada kondisi badan dan cuaca. Jika cuaca hujan, tentu saya memilih untuk di kamar. Jika kaki masih keseleo karena latihan lari terlalu keras, maka saya tidak memaksa untuk lari pagi.

Lari pagi hari lebih menyenangkan daripada sore hari. Memang pagi hari lebih dingin daripada sore hari, namun jika lari suhu badan meningkat. Jadinya nggak dingin lagi. Jam 7 pagi di akhir September ini matahari belum terbit ^__^. Matahari terbit sekitar jam setengah delapan.

Namun bukan berarti pagi hari sepi seperti kuburan. Selalu ada manusia yang bekerja di pagi hari. Siapa saja? Pengangkut sampah dan pembersih jalanan. Mereka sudah bisa terlihat sejak jam 6 pagi. Tidak terbayangkan bagaimana mereka bekerja ketika musim dingin. Matahari terbit jam 8 ke atas ketika musim dingin. Apalagi jika ada salju.

Pekerja lain adalah mereka supplier toko dan pengirim baranng. Saya tinggal di pusat kota, tepat diatas toko-toko. Tiap pagi saya melihat truk pengantar barang. Pekerja di pagi hari bekerja sebagai sopir sekaligus orang yang menurunkan dan memasukkan barang ke toko. Kegiatan ini selalu dilakukan pagi hari, dimana orang-orang pada umumnya belum beraktivitas. Beda misalnya dengan di Indonesia, misalnya supplier alfamart dan indomaret, yang bisa kita temui mereka memasok barang pagi, siang, sore, atau malam. Disini, semua barang di pertokoan dipasok di pagi hari. Silakan dibayangkan jika bekerja di musim dingin, hehehe

Comments are closed.

© 2017 ARIP MUTTAQIEN.