Kanne, Perbatasan Belanda Belgia

January 19, 2014 @

Kanne, sebuah desa di perbatasan Belanda dan Belgia. Secara administratif pemerintahan, Kanne termasuk wilayah Belgia, lebih tepatnya provinsi Limburg, gemeente Riemst. Hari Jumat, 17 Januari 2014, saya mencoba rute bersepeda sejauh 30 km, dimana saya bisa melewati Kanne.

Jangan bingung dengan nama Limburg. Belanda dan Belgia sama-sama punya provinsi bernama Limburg. Di Belanda, Limburg adalah provinsi ujung selatan kerajaan, dengan luas wilayah 2.153 km2 dan populasi 1,13 juta jiwa. Di Belgia, luas wilayah Limburg adalah 2.422 km2 dengan populasi 850 ribu jiwa. Sebuah hal wajar karena Belanda dan Belgia dahulu adalah wilayah satu kerajaan. Revolusi Belgia tahun 1830 telah mengubah batas negara.

Menuju Kanne

Kanne hanya sebuah wilayah kecil, dengan penduduk 1.200 jiwa. Bukan sebuah populasi yang besar. Jika dibandingkan dengan Indonesia, bisa seukuran dengan RW (Rukun Warga) atau dusun. Terletak di pedesaan, membuat suasana menjadi lain dari yang lain. Berkunjung ke Kanne seakan merasakan suasana bukan di Belanda atau Belgia. Lahan-lahan pertanian yang dibatasi oleh bukit dan hutan mengingatkan pada suasana di pedesaan Indonesia. Jalan utama sangat lengang. Hanya kadang mobil atau sepeda lewat. Sering terlihat orang tua masih terlihat kuat mengayuh sepeda dengan kecepatan penuh.

Tapal Batas

Saya mengayuh sepeda dengan kecepatan santai. Membiarkan beberapa pengayuh sepeda lain mendahului. Mata saya melihat sebuah tapal batas. Saya putuskan berhenti sejak. Tapal batas ini bukan bangunan megah. Hanya tapal batas biasa. Ditandai dengan sebuah tapal setinggi kira-kira satu meter. Di tapal batas itu terukir lambang kerjaan Belgia dan Belanda, serta angka 1843. Artinya tapal batas ini sudah berusia 170 tahun.

Latar belakang foto tapal batas ini adalah wilayah Belanda. Terlihat lahan pertanian di wilayah Belanda dan sebuah perumahan. Satu langkah dari tapal batas, kita sudah berpindah wilayah negara. Lalu lintas perpindahan yang sangat mudah. Tak ada pemeriksaan paspor atau identitas. Satu hal menarik, kesatuan Uni Eropa telah mempermudah manusia berpindah dari satu negara ke negara lain. Lalu lintas manusia, sepeda, mobil, perdagangan, dan turis jadi lebih mudah. Barangkali ini adalah buah dari kesadaran Eropa yang telah menyudahi konflik berabad-abad. Perang dunia ke-2 menjadi titik balik Eropa, dari peperangan tak berkesudahan, menuju persahabatan antar bangsa.

Tidak perlu khawatir juga dengan kendala bahasa. Biasanya penduduk di perbatasan berkomunikasi dengan bahasa Belanda dan Prancis. Kanne masih masuk wilayah Belgia dengan bahasa Belanda (Flemish). Fakta lain adalah: Kanne terletak di perbatasan Flemish dengan Wallonia, wilayah Belgia berbahasa Prancis. Jika kita berjalan menuju wilayah Kanne (tidak terlihat pada gambar tapal batas diatas), tidak sampai satu kilometer, maka kita akan masuk wilayah berbahasa Prancis.

Grenadiersweg

Tak berapa lama, saya memilih melanjutkan perjalanan. Cuaca winter yang tidak terlalu dingin membuat perjalanan terasa menyenangkan. Hari ini suhu udara 5 C, sangat menyenangkan untuk bersepeda. Bagi saya, hujan tidak menyenangkan di kala winter. Saya termasuk orang yang malas memakai payung, kecuali jika memang hujan deras. Alhamdulillah, hari ini tidak hujan.

Di sepanjang kanan, membentang sebuah sungai yang lebar. Beberapa kapal berukuran kecil bersandar ditepi sungai. Tak ada keramaian. Wajar. Karena masih sekitar jam 10 pagi.

Sebuah jembatan berdiri tegak menghubungkan Kanne dengan wilayah seberang. Pada umumnya, kota-kota dan kehidupan di Eropa dibangun dengan peradaban sungai. Ketika berkunjung ke berbagai kota di Eropa, kita selalu menemukan jembatan yang menyambungkan antar dua wilayah. Sungai-sungai berukuran relatif lebar, memungkinkan kapal berukuran besar melintas. Sungai jadi sarana wisata hingga sarana logistik perusahaan pesawat terbang.

Sungai ini cukup lebar, sekitar 100 hingga 150 meter. Saya berhenti dan istirahat sejenak, sambil mengabadikan beberapa foto. Sebuah kapal menyusuri sungai. Dari kejauhan terlihat kapal tersebut mengangkut barang-barang tambang. Entah pasir, batu, atau barang tambang lain. Tidak begitu jelas. Beberapa pabrik memang berdiri di Limburg. Cerobong-cerobong asap selalu mengeluarkan polusi udara dari Limburg. Tiap hari, puluhan kapal melintasi sungai, berfungsi sebagai supply chain bagi industri di Limburg.

Pagi ini masih cerah. Perjalanan masih panjang. Saya putuskan melanjutkan perjalanan.

Comments are closed.

© 2017 ARIP MUTTAQIEN.