Kebahagiaan

August 24, 2012 @

Satu dekade lalu saya ditanya: “Apa menurutmu bahagia?”

Saya belum bisa menemukan dengan pasti jawaban itu. Saya hanya jawab: “Membahagiakan orang tua.” Sebuah jawaban yang bahkan tidak bisa disebut jawaban diplomatis.

Bahagia. Kebahagiaan. Sebuah kata yang tak asing dalam benak kita.

Apakah kebahagiaan itu?

Bahagia itu sederhana, yaitu ketika seseorang mencapai keinginan. Disitulah kebahagiaan muncul. Kasusnya bermacam-macam. Contohnya, seorang ibu yang bahagia menyaksikan anaknya diwisuda, seorang penjual kaki lima mendapatkan rezeki lebih dari cukup karena barang dagangan habis, seorang musafir yang bahagia menemukan sumber air untuk mengobati dahaga, seorang mahasiswa yang telah berhasil lewati ujian disertasi doktoral, sepasang suami istri yang diberi buah hati setelah menunggu satu dekade pernikahan, seorang anak muda yang baru saja menjadi hafidz (penghafal Al Quran), seorang anak muda yang baru saja mendapat beasiswa kuliah ke luar negeri, dan lain-lain.

Definisi tiap orang pasti berbeda. Mereka melihat bahagia dari sudut pandang berbeda. Tak ada yang sama. Masing-masing punya standar berbeda. Seorang mahasiswa pasti memiliki standar berbeda dengan seorang ibu rumah tangga. Seorang ibu rumah tangga cukup merasa bahagia melihat anaknya berhasil lulus kuliah. Namun bagi seorang anak, belum tentu lulus kuliah adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Bisa jadi anak itu punya tujuan lain yang lebih tinggi.

Posisi berdiri seorang manusia menentukan bagaimana dia memandang kebahagiaan. Satu keluarga miskin berpikir akan bahagia jika bisa memiliki rumah nyaman, terpenuhi pangan, dan mampu menyekolahkan anak-anak mereka ke tempat terbaik. Logisnya, jika definisi ini digunakan, tentu semua orang kaya merasa bahagia dengan terpenuhi segala kebutuhan material. Namun faktanya apakah selalu demikian ? Tidak juga. Berpijak pada ekonomi lebih atas pasti memunculkan keinginan yang tak habis. Selalu ada kebutuhan-kebutuhan yang muncul. Anak keluarga kaya raya bisa jadi tak cukup kuliah di perguruan tinggi dalam negeri. Dia akan pergi ke luar negeri, menuntut ilmu, jauh dari keluarga, tentunya dengan kebutuhan finansial lebih tinggi.

Menyimak data Happy Planet Index 2012 :

No Negara Index
1 Costa Rica 64
2 Vietnam 60.4
3 Colombia 59.8
4 Belize 59.3
5 El Salvador 58.9
6 Jamaica 58.5
7 Panama 57.8
8 Nicaragua 57.1
9 Venezuela 56.9
10 Guatemala 56.9
11 Bangladesh 56.3
12 Cuba 56.2
13 Honduras 56
14 Indonesia 55.5
15 Israel 55.2
16 Pakistan 54.1
17 Argentina 54.1
18 Albania 54.1
19 Chile 53.9
20 Thailand 53.5

Sembilan dari sepuluh negara teratas Happy Planet Index (HPI) berlokasi di Kepulauan Karibia. Hanya Vietnam yang berada pada ranking ke-2. Selanjutnya, posisi 20 besar masih didominasi oleh negara-negara Amerika Latin. Beberapa negara diluar Amerika Latin, antara lain: Bangladesh (rank ke-11), Indonesia (rank ke-14), Israel (rank ke-15), Pakistan (rank ke-16), Albania (rank ke-17), dan Thailand (rank ke-18). Tak ada negara-negara maju yang masuk ke 20 besar. Dari 40 negara dengan ranking HPI tertinggi, hanya 4 negara dengan GDP/kapita lebih dari US $ 15.000, seperti Israel (rank ke-15), New Zealand (rank ke-28), Norway (rank ke-29). Negara-negara maju menempati ranking kurang bagus, seperti Jepang (rank ke-45), Germany (rank ke-46), France (rank ke-50), China (rank ke-60), US (rank ke-105).

Memang masih ada perdebatan tentang definisi Happy Planet Index , tentu saja bagaimana mengukur kebahagiaan. HPI tidak memasukkan faktor kebebasan berpolitik, HAM, dan hak buruk. Tidak seluruh sumber data update, sebagian menggunakan data estimasi regresi untuk kelengkapan data. Standar kebahagiaan itu sangat subjektif dan masih sulit diukur.  

Meski masih ada perdebatan definisi kebahagiaan, fakta diatas membuktikan bahwa kekayaan tidak selalu membuat bahagia. Posisi 20 ranking teratas bukanlah negara-negara dengan GDP/kapita tinggi, kecuali Israel. Negara-negara OECD justru terlempar dari ranking atas meski mereka memiliki berbagai kemajuan.

Menurut riset IPSOS, sebuah konsultan riset yang melibatkan 19 ribu orang dewasa di 24 negara, separuh responden di Indonesia mendefinisikan “very happy” ketika diberikan pilihan: very happy, rather happy, not very happy, dan not happy at all. Hasil riset yang dipublikasikan Februari 2012 ini menempatkan Indonesia as the happiest people. Indonesia berada pada ranking ke-1, diikuti India, Mexico, Brazil, Australia, US, Saudi Arabia, UK, China, Germany, Japan, France, Italy, Russia, dan South Korea. Lihatlah bahwa posisi bawah justru ditempati oleh negara-negara dengan GDP/kapita lebih tinggi. Apalagi negara-negara Eropa Barat mulai rasakan dampak krisis ekonomi pada tahun 2012, yang otomatis meruntuhkan “rasa kebahagiaan” mayoritas penduduk. Kecuali UK, kurang dari 20 persen responden negara-negara Eropa Barat tersebut menjawab “very happy”. China sebagai negara adidaya baru bahkan hanya kurang dari 20 persen responden yang menjawab “very happy”.

Sekali lagi, standar kebahagiaan bisa diperdebatkan karena sangat subjektif. Apalagi untuk sebuah survei. Dua orang pasti punya standar berbeda untuk kebahagiaan, apalagi ribuan orang!

Dan saya pun sadar bahwa standar kebahagiaan bisa jadi selalu mengikuti dimana saya berdiri hari ini. Satu dekade lalu, tujuan hidup saya tidaklah setinggi tujuan hidup hari ini. Hari ini ketika saya berdiri pada posisi lebih tinggi, seluruh target harus direvisi. Saya tidak bisa menggunakan target satu dekade lalu.

Lalu bagaimana dengan standar kebahagiaan. Inilah yang harus disesuaikan. Berada pada kondisi manapun, harus selalu bahagia. Konsep sederhana saja.

Not comparing apple-to-apple. Everyone has unique track. Tiap orang dilahirkan dalam kondisi berbeda, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, dalam kondisi keluarga berbeda, lingkungan berbeda, dan proses berbeda. Membandingkan satu orang dengan orang lain sangat tidak adil. Not fair when you compare head to head, anything! Saya percaya tiap orang punya jalan masing-masing. Jangan pernah frustasi dan iri dengan jalan orang lain. Percayalah, tiap orang punya jalan hidup masing-masing. Dan yakinlah bahwa jalan hidup yang dilalui masing-masing orang unik. Tak ada yang sama.

Bersyukur. Gracious. Banyak ajaran agama dan non agama yang mengajarkan untuk selalu bersyukur. Sesuai dengan agama yang saya anut, konsep syukur ini sederhana sekali. Tiap hari seorang Muslim harus bersyukur, efeknya: rezeki bertambah. Allah telah menjanjikan bahwa rezeki akan bertambah jika kita bersyukur. Dalam shalat lima waktu, setidaknya 17 kali membaca Al Fatihah, dalam satu ayat “Alhamdulillahi rabbil alamin”. Belum lagi bacaan lain, seperti dzikir setelah shalat. Konsep syukur melatih kepuasan batin. Konsep syukur bisa membatasi diri dari sifat berlebihan.

Optimis. Optimis tidak lepas dari cita-cita tinggi. Satu dekade lalu, cita-cita saya tidaklah setinggi cita-cita hari ini. Optimis lebih tinggi derajat dari niat. Niat itu statis. Optimis itu dinamis. Niat itu cukup untuk menggerakkan. Optimis mampu lebih dari menggerakkan. Optimis memberi energi positif. Energi positif inilah yang kadang mampu menembus benteng sedemikian kokoh yang mungkin dibayangkan tidak mungkin ditembus. Energi pendobrak muncul begitu saja ketika optimis. Selalu ada jalan keluar.

Kerja keras. Bersyukur tanpa bergerak sama saja diam ditempat. Optimis tanpa kerja keras sama saja bermimpi. Target selalu direvisi ketika sudah mencapai tahapan terakhir. Selalu muncul target-target baru yang lebih menantang. Tentu saja target itu harus lebih tinggi. Kebahagiaan seharusnya tidak didefinisikan secara sempit ketika sukses mencapai target. Ketika target yang lebih tinggi gagal dicapai, seringkali orang berputus asa dan merasa tidak bahagia, padahal dia sudah mencapai banyak target sebelumnya. Seringkali hanya karena target terakhir yang gagal tercapai, orang menjadi frustasi. Target terakhir seringkali menjadi ukuran kebahagiaan.

Well, padahal kebahagiaan bukan hanya berbicara masalah target-target terakhir (yang seringkali) lebih tinggi. Kebahagiaan berbicara lebih komprehensif, seperti yang saya tulis diatas. Gagal pada target tertentu, bisa menjadi membuka jalan pada target lain. Selalu ada peluang ditengah kesulitan. Hambatan bisa dijadikan tantangan, tergantung sudut pandang. An optimist sees opportunities in every difficulty.

Jika hari ini saya menjadi responden, saya akan menjawab : I am very happy. Toh, hari ini saya sudah merasakan banyak kemajuan dibandingkan satu dekade lampau. Sederhana saja. Bahagia itu relatif.

Mudah menemukan kebahagiaan lain ditengah kehidupan Jakarta yang tidak layak. Ditengah kemacetan adalah saat yang tepat untuk membaca buku. Saya menemukan banyak ide-ide menarik ditengah kemacetan. Alhamdulillah, bulan Ramadhan kemarin saya bisa khatam Al Quran, 80 persen bacaan Al Quran saya selesaikan dalam perjalanan, baik dalam komuter, taxi, dan bus kota. Other side of my life, finding out of happiness.

Memang dalam jangka menengah, saya memilih pergi dari Jakarta. I considered moving out of Jakarta. And I will move out of this city within one or two years from now. InsyaAllah. This is not about happiness, but I need to try new challenge, need to live in another way, and need to enjoy new happiness.

Comments are closed.

© 2018 ARIP MUTTAQIEN.