Kehamilan di Belanda (1)

July 11, 2019 @ No Comments

Pada tulisan kali ini, kami ingin sedikit sharing tentang proses kehamilan di Belanda. Bagaimana proses kehamilan? Bagaimana prosedur melahirkan? Apa saja yang harus dipersiapkan? Kali ini kami ingin lebih fokus pada pengalaman pribadi tentang sistem midwife (bidan) di Belanda.

Sebagai disclaimer awal, tulisan ini berasal dari pengalaman pribadi ketika proses kehamilan anak pertama kami. Jadi kami tidak berniat men-generalisir pengalaman personal menjadi kesimpulan umum.

Di Belanda, sistem kesehatan dibuat secara berjenjang. Berbeda dengan Indonesia yang kita bisa langsung ke dokter spesialis. Khusus untuk kehamilan di Belanda, proses kontrol kehamilan dilakukan di bidan. Kita tidak bisa langsung ke dokter spesialis, kecuali jika ada kasus khusus.

Secara umum, Belanda mengenal tiga level kesehatan untuk kehamilan. Level pertama adalah bidan dan dokter umum (GP) untuk low-risk women. Level kedua adalah bidan dan dokter spesialis di rumah sakit umum. Level ketiga adalah bidan dan dokter spesialis di rumah sakit akademik (academic hospital), yang biasanya ada di kota-kota besar. Dengan meminimalisir tindakan yang tidak perlu untuk low-risk woman, maka biaya kesehatan bisa diminimalisir.

Ohya, yang harus dipastikan adalah asuransi. Cek apakah bidan tersebut punya kerjasama dengan asuransi. Untuk kasus kami berdua, kami menggunakan Dutch Insurance, namanya CZ. Sebelum membuat appointment dengan bidan, kami cek di website CZ.

Setelah melihat hasil test-pack positif pada pertengahan September 2016, kami bisa langsung bikin appoinment ke bidan untuk pemeriksaan pertama. Alhamdulillah, pada bulan September 2016 akhir, kami berdua mendapatkan konfirmasi tentang kehamilan. Nama tempat praktiknya adalah “Het Verloskundig Huis“, lokasinya tak jauh dari stasiun Maastricht. Disini kami hanya dua kali berkunjung karena kami lebih memilih tempat yang lain. Kami memilih untuk ke bidan “Schoffelen – van Vleuten Verloskundige Praktijk“.

Kedua tempat bidan tersebut punya kerjasama dengan CZ, jadi tidak ada masalah dengan asuransi. Alasan utama kami pilih tempat bidan kedua adalah lokasi. Sebenarnya secara jarak, keduanya hampir sama, sekitar 2 km dari rumah kami. Namun untuk tempat praktik yang pertama, kami harus naik lift di stasiun. Dari pengalaman buruk, lift tersebut kadang-kadang rusak, sehingga praktis harus naik tangga. Kebayang donk, kalau lagi hamil besar tiba-tiba lift rusak, jadi agak malas. Sedangkan lift yang lain bau-nya agak tidak enak. Dari perhitungan total waktu, pada akhirnya lebih cepat sampai ke tempat praktik bidan kedua.

Beberapa fakta tentang sistem bidan di Belanda:

- Jumlah bidan: 3.150, dimana sekitar 29% bidan bekerja di rumah sakit (2016).

- Jumlah dokter spesialis Obs/Gyn: 805 (2014).

- Rata-rata usia melahirkan untuk anak pertama: 29,4 tahun (2016).

- Home birth: 13% (2016).

- Birth in primary care: 29% (2016).

- Referral ketika kehamilan: 36% (2016).

- Referral ketika melahirkan: 22% (2016).

- Induksi: 22% (2016).

- C-section: 17% (2016).

- Epidural: 22% (2016).

Beberapa fakta diatas sedikit memberikan gambaran tentang sistem bidan di Belanda. Setelah registrasi secara resmi bidan, kami mendapatkan jadwal pemeriksaan rutin. Pemeriksanaan dilakukan tiap 2-3 minggu pada trisemester pertama, kemudian tiap bulan pada trisemester kedua, dan tiap 2 minggu pada trisemester ketiga. Untuk tiap pemeriksaan, kami harus membuat appointment. Tiap kali pemeriksaan, biasanya 15-25 menit, tergantung jenis pemeriksaan.

Dari pengalaman, biasanya ada beberapa bidan yang dibagi sesuai jam jaga. Misal hari ini istri diperiksa oleh bidan X, dua minggu berikutnya diperiksa oleh bidan Y, tergantung jam berapa pemeriksaan. Ternyata memang mereka bergantian bertugas. Yang pasti harus standby 24 jam jika terjadi apapun.

Kami diberikan nomer HP khusus yang bisa ditelpon 24 jam. Bisa pagi, siang, sore, tengah malam, atau dini hari. Yang pasti bidan bilang nomer darurat ini harus disimpan. Jika ada emergency, maka kami akan dengan mudah menghubungi.

(bersambung)

 

Leave a Reply

© 2019 ARIP MUTTAQIEN.