Lari Terus, Terus Lari

October 8, 2012 @

Hari ini saya ikut lomba lari 10K. Sebenarnya ini bukan pertamakali saya ikut lomba lari 10K. Bulan Mei 2012, saya ikut Jakarta International 10K yang merupakan kegiatan tahunan dalam rangka ulang tahun Jakarta.

Kali ini organizer adalah Bank Mandiri dalam rangka ulang tahun ke-14. Lomba ini dibagi jadi dua kategori, yaitu 5K dan 10K. Informasi lebih lengkap bisa diakses di www.mandiri4nation.com.

Start lomba adalah lapangan parkir JCC. Untuk kategori 5K, peserta berlari keluar menuju Sudirman, berlari ke arah Semanggi, kemudian berputar di Semanggi menuju arah Blok M. Peserta berputar du Bundaran Senayan, menyusuri Sudirman hingga belok ke arah JCC.

Untuk kategori 10K, peserta berlari keluar menuju Sudirman, berlari ke arah Semanggi, berlari terus hingga Dukuh Atas, berputar ke arah Semanggi, terus hingga berputar di Bundaran Senayan, menyusuri Sudiman hingga belok ke arah JCC.

Tercatat lebih dari 1.000 peserta terdaftar sebagai pelari, baik kategori 5K dan 10K. Mulai dari atlet yang serius, peserta yang sekedar berolahraga, hingga peserta yang sekedar cari hiburan. Saya mengkategorikan peserta yang sekedar berolahraga. Hanya satu target: lari non stop 10K hingga finish.

Start lari adalah jam 5.55 dari parkiran JCC. Ada ratusan pelari bersiap-siap menuntaskan 10K. Saya hanya berlari santai. Banyak peserta didepan saya. Sepanjang 1 km awal, saya lihat ada peserta terlambat datang. Datang terlambat itu sangat tak menyenangkan. Kesenangan utama adalah mulai berlari bersama-sama karena akan memberi semangat.

Sepanjang 3 km awal, perut sebelah kanan terasa kram. Kram perut ini sangat menyiksa. Namun saya tetap berlari hingga kram perut mulai hilang pada kilometer ke-4.

Hari ini tak ada masalah dengan nafas. Jika sering berlari, nafas seharusnya tak jadi masalah. Ngos-ngosan itu disebabkan karena kurang latihan. Latihan minimal seminggu sekali akan membantu memperbaiki cara berlari. Setidaknya ngos-ngosan akan hilang karena berlatih mengatur kecepatan berlari.

Berlari di jalan Sudirman lebih menyenangkan karena kualitas jalan beraspal yang bagus. Wajar karena Sudirman adalah wilayah perkantoran. Kualitas jalan yang bagus tentu memudahkan pelari. Bandingkan dengan berlari di jalanan becek dan aspal rusak, tentu lebih merepotkan.

Sepanjang kanan dan kiri jalan terlihat gedung bertingkat. Hari Minggu pagi adalah hari bebas kendaraan bermotor, sering disingkat HBKB atau car free day. Sepanjang perjalanan, saya menemukan berbagai aktivitas. Bersepeda. Sepatu roda. Jalan kaki. Penjual makanan minuman. Dan sebagainya.

Masuk kilometer ke-5, saya menambah kecepatan berlari. Kali ini saya banyak menyalip pelari lain. Sebagian dari mereka berjalan setelah capek berlari. Ini berbeda jauh dengan prinsip saya: terus berlari, jangan pernah berhenti. Sekali berhenti lari, selanjutnya akan sulit berlari lagi. Jika agak capek, saya pilih berlari pelan. Pokoknya, jangan sekalipun berhenti berlari.

Berlari jarak jauh tentu perlu stamina. Lari 10K harus mengatur bagaimana stamina tetap bertahan hingga akhir pertandingan. Tak usah berlari terlalu cepat diawal. Simpan energi. Keluarkan bertahap. Lebih baik lari pelan dan stabil daripada lari cepat namun tak stabil. Kestabilan akan menjaga stamina bertahan hingga akhir pertandingan.

Selama perjalanan 10K, ada tiga titik pemberian air minum. Jangan gegabah dengan langsung minum sebanyak-banyaknya. Tubuh memang dehidrasi. Tentu perlu air minum. Namun langsung minum banyak tentu bukan cara tepat. Apalagi dalam kondisi berlari. Dari pengalaman saya, kebutuhan minum baru terasa pada kilometer ke-5. Saya biasanya minum setelah kilometer ke-5. Dan minum sedikit demi sedikit. Minum cukup 50 – 100 cc sekali minum. Hingga 10K, saya hanya minum sekitar 200 – 250 cc. Tak banyak. Sisanya saya gunakan untuk membasahi tubuh.

Mulai kilometer ke-8, saya menambah jangkauan kaki. Langkah kaki lebih panjang. Banyak pelari yang saya dahului. Dan ini menambah semangat. Urusan berlari tak cuma niat dan stamina. Mental sangat berpengaruh. Kekuatan mental mendorong pelari selesaikan hingga finish.

Sepanjang perjalanan, saya mendengarkan musik untuk membunuh kebosanan. Cara ini sangat efektif. Berlari itu sendiri. Tak ada teman bicara. Tak mungkin mengajak teman bicara karena akan mengganggu lari. Tidak berbicara adalah metode yang tepat untuk menghemat energi. Kecuali jika berniat berlari sambil ngobrol, tentu berbeda.

Kecepatan berlari makin bertambah pada 500 meter terakhir menjelang finish. Pada 100 meter terakhir saya menambah kecepatan dan jangkauan kaki. Hasilnya? Saya finish dengan waktu 1 jam 15 menit. Ini hasil yang cukup bagus untuk saya. Setidaknya lebih baik daripada catatan waktu 5 bulan lalu: 1 jam 35 menit!

Akhirnya, apa yang dapat disimpulkan? Ada beberapa filosofi berlari.

Berlari itu hanya masalah niat, stamina, dan mental. Jika tiga hal itu bisa terpenuhi, maka kita akan mencapai finish.

Tetap optimis. Optimisme ini mendorong pelari selesaikan hingga finish. Jika belum mencoba sudah pesimis, itu adalah awal dari kekalahan. Jangan sekalipun berpikir “tidak bisa” karena pikiran itu akan menghentikan proses berlari.

Berlari untuk diri sendiri. Saya adalah orang yang berpikir demikian. Saya bukan atlet lari. Saya berlari karena ingin: sehat dan panjang umur. Kesehatan itu untuk diri sendiri. Karena itu saya tidak berlari untuk mengalahkan pelari lain. Musuh utama adalah diri sendiri. Jika bisa kalahkan diri sendiri, maka itu adalah kemenangan.

Pecahkan rekor diri sendiri. Perbaiki terus rekor itu. Saya memilih tak membandingkan rekor saya dengan orang lain. Tiap orang punya kondisi masing-masing. Tak usah capek-capek saling membandingkan. Tiap orang punya kesuksesan masing-masing. Hanya diri sendiri yang bisa mengukur kesuksesan masing-masing. Hasil akhir tentu membuat kaget: ternyata saya bisa finish. Saya bukan pelari. Tak banyak waktu untuk berlatih. Namun bisa finish. Jika yakin, maka keyakinan itu akan mempermudah.

Berlari jarak jauh seperti menjalani kehidupan. Jalannya panjang. Tak perlu habiskan energi diawal perjalanan. Konsistensi justru lebih penting. Terus berlari. Jika harus berjalan, lakukan. Jika harus merangkak, lakukan. Yang penting dilarang menyerah dan berhenti. Tidak boleh putus asa. Pasti bisa mencapai tujuan.

Bagi saya, lari jarak jauh memberi dampak positif. Kesehatan dan optimisme. Saya tetap sehat. Tidak mudah sakit. Tidak mudah capek. Saya jadi lebih optimis. Semua pasti bisa. Jika ada keinginan pasti ada jalan keluar.

Target selanjutnya adalah 20K. Jika ada waktu, saya ingin berlari dari Depok ke kantor. Jarak sekitar 20an kilometer. Target tahun 2013 adalah ikut lari marathon 42K. Tentu itu bukan target yang mudah dicapai oleh pelari amatir seperti saya. Namun itu tak mustahil dicapai. Perlu latihan, latihan, dan latihan.

2 Comments → “Lari Terus, Terus Lari”


  1. lelamustafa

    4 years ago

    saya suka dengan filosofi berlari. dilarang berhenti dan menyerah. Menurut saya, berhenti dan menyerah berarti mati.

    Salam kenal. blognya inspiratif :)


  2. Alvin

    4 years ago

    bagus tuhhh pengalaman yg pernah di alami …. bisa di bagi bagi …. saya yg membaca tambah semangat untuk mengikuti lomba lomba lari ….


© 2018 ARIP MUTTAQIEN.