Mari Berbagi

December 22, 2012 @

Link: http://on.fb.me/U2NN8t

 

Kami menulis surat ini dengan sebuah keyakinan khusus bahwa kita semua bisa saling mendukung untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Kami yakin bahwa kerjasama lebih dahsyat daripada kerja sendiri. Tak pernah ada superman, namun selalu ada superteam. Kami yakin bahwa Anda semua punya kesempatan untuk berbuat dan berkontribusi, sekecil apapun, untuk Indonesia.

Kami yakin bahwa semua mimpi adalah untuk diraih, dengan kerja keras dan berdoa. Kami yakin bahwa tiap orang berhak punya mimpi. Kami yakin bahwa tiap orang berhak punya mimpi lebih tinggi, dan lebih tinggi lagi. Mimpi itu tak terbatas. Namun yang lebih penting adalah bagaimana meraih mimpi-mimpi itu. Kami yakin bahwa tiap orang berhak berjalan, berlari, dan mengejar mimpinya.

Ketika kita masih berusia anak-anak, kita sering dengan mudah menyebut cita-cita kita. Jawaban yang muncul, seperti menjadi dokter, tentara, pilot, duta besar, dan lain-lain. Anak-anak relatif lebih optimis. Mereka berani bermimpi tanpa batas. Dan tanpa rasa takut.

Menginjak dewasa, mimpi-mimpi itu segera berubah. Orang dewasa menyebutnya berubah karena realitas dan rasionalitas. Sebagian berani bermimpi lebih tinggi lagi. Sebagian justru mengubur mimpi-mimpi itu. Mereka merasa tak mungkin meraih mimpi-mimpi itu. Segala keterbatasan jadi penghalang meraih mimpi-mimpi itu.

Kita semua tahu bahwa pendidikan adalah salah satu kunci membuka pintu masa depan. Bagi seseorang, pendidikan akan memberi banyak peluang dan pilihan hidup. Pendidikan adalah salah satu kunci meraih mimpi-mimpi itu. Tak ayal, orang tua akan berusaha memberi pendidikan terbaik bagi putra-putri mereka. Ayah rela bekerja membanting tulang untuk membiayai sekolah putra-putrinya. Ibu harus mengatur keuangan rumah tangga agar biaya sekolah terbayar.

Hari ini, sebagian dari kita ada yang bekerja di perkantoran, institusi pemerintah, institusi swasta, pengusaha, bahkan beruntung mendapat kesempatan hidup di negeri orang. Sebagian dari kita hidup dalam kondisi nyaman dan penghasilan cukup. Sebagian dari kita memiliki karir cemerlang. Sebagian dari kita sudah diberi rezeki berlebih sehingga bisa menjamin sekolah putra-putri masing-masing.

Semua ini sulit terjadi tanpa bekal pendidikan. Pendidikan telah membuka pintu-pintu peluang itu. Pendidikan telah memungkinkan kita melakukan mobilitas vertikal. Pendidikan memungkinkan seorang anak dari keluarga miskin, berhasil mensejahterakan keluarganya. Pendidikan memungkinkan kita mendapatkan posisi lebih terhormat. Pendidikan membuat hari ini lebih baik bagi diri kita masing-masing. Dan satu yang pasti: Pendidikan membuat mimpi-mimpi kita menjadi kenyataan.

Pendidikan memang kompleks. Dibalik segala perdebatan tentang kurikulum, fasilitas, guru, seminar, konsep, ide, dan semacamnya, ada satu hal menarik, yaitu melihat bagaimana perjuangan seseorang untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. Tak semua beruntung mendapatkan pendidikan berkualitas. Bagi keluarga yang kurang mapan secara ekonomi, mereka harus berjuang “lebih keras” untuk menyekolahkan putra-putrinya, demi mendapatkan pendidikan terbaik.

Kami mulai dari sebuah langkah kecil, yaitu dari almamater kami: SMA 2 Madiun. Sekolah ini sudah berdiri sejak tahun 1951/1953, saat itu bernama SMA 2C dan masih berada di Jalan Sumatera. Dua tahun kemudian, berubah menjadi SMA Negeri 2C Madiun dan pindah ke Jalan Biliton. Sejak saat itulah, Jalan Biliton menjadi kenangan bagi alumni. Sudah ribuan, mungkin puluhan ribu, siswa pernah mengenyam pendidikan disini. Sekolah ini pernah beberapa kali berganti nama: SMA Negeri 2, SLTA Negeri 2, dan SMU Negeri 2. Apapun namanya, alumni selalu ingat dengan dengan istilah “SMUDA” atau “SMADA”.

Kami percaya bahwa “berbagi” adalah langkah kecil yang bisa kita lakukan. “Berbagi” adalah langkah kecil turun tangan, dengan keikhlasan tanpa pamrih, untuk masa depan bersama yang lebih baik. Tidak semua saudara-saudara kita beruntung secara ekonomi. Kami menemukan beragam fakta ketika berkunjung ke rumah mereka. Ada seorang seorang siswa tinggal sebuah rumah petak di gang sempit kawasan padat penduduk. Ada seorang siswa tinggal di daerah pedesaan, 30 menit perjalanan dari sekolah. Beragam profesi orang tua siswa-siswa itu. Seorang ibu yang menjadi single parent karena suaminya telah meninggal. Profesi petani, penjahit, penjual jus keliling, penjaga sekolah, sopir, kuli bangunan, hingga bekerja serabutan.

Dari beragam latar belakang, kami temukan satu persamaan: Semangat Bersekolah. Siswa-siswa itu tetap bersemangat sekolah, apapun kondisi keluarga. Orang tua tetap bersemangat mencari rezeki dan membanting tulang. Beberapa siswa adalah siswa berprestasi, menunjukkan mereka tetap berlari mengejar mimpi-mimpi mereka. Keterbatasan bukan jadi halangan namun menjadi tantangan. Salah satu orang tua berkata : “Tak mengapa kami ‘memaksakan’ diri untuk menyekolahkan anak kami di sekolah yang bagus. Biayanya memang banyak. Kami mengumpulkan uang dari sana sini untuk membayar sekolah. Semoga anak kami lebih berkecukupan nantinya”.

Cerita-cerita ini sebenarnya bukan hal baru untuk kita. Cerita-cerita seperti ini bisa terjadi dimanapun, tidak hanya di SMA 2 Madiun. Kita sudah sering mendengar cerita-cerita seperti ini, dari media massa.

Namun hanya satu yang membedakan. Apakah kita mau terlibat untuk “turun tangan” membantu mereka. Satu orang dari kita memberi bantuan, mungkin bernilai kecil. Namun jika diakumulasikan dengan banyak orang, bantuan itu bernilai luar biasa. Seperti yang kami tulis diawal: Tak pernah ada superman, namun selalu ada superteam. Bagi siswa-siswa itu, bantuan itu bernilai, walaupun belum mampu selesaikan semua hambatan, namun menjadi pemicu semangat “bahwa mereka tidak sendiri”.

Kami mulai dari almamater kami SMA 2 Madiun dengan sebuah gerakan SMUDA BERBAGI. Berbagi adalah konsep sederhana. Kami mengajak Anda untuk “turun tangan” memberi bantuan dalam bentuk donasi beasiswa kepada siswa-siswa SMA 2 Madiun. Anda dapat pula memberi bantuan dalam bentuk lain, sesuai dengan kapasitas Anda.

Kami tidak bermaksud untuk menyelesaikan semua masalah ini. Kami hanya manusia biasa, dengan segala keterbatasan, namun ingin berkontribusi, walaupun kecil, untuk republik ini. Kami hanya ingin “mengajak” Anda untuk menjadi bagian dari solusi. Pasti kita ingin melihat siswa-siswa itu terus bersemangat mengejar mimpi-mimpi mereka. Mimpi, optimisme, kerja keras, dan kepedulian adalah kombinasi dahsyat.

 

Salam hangat,

Smuda Berbagi

 

NB: Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh atau ingin memberi bantuan, silakan hubungi:

W: http://www.smudaberbagi.org

FB: http://www.facebook.com/SmudaBerbagi

T: @SmudaBerbagi

E: admin@smudaberbagi.org

HP: 082131303091

PIN: 3281436D

Rek Donasi: Bank Mandiri a/n Wahyu Marlinawati, 144-00-1363343-0

Comments are closed.

© 2018 ARIP MUTTAQIEN.