#RoroMendut

April 15, 2012 @

Saya tidak ingat sudah berapa kali menonton pertunjukan teater. Disini hanya ingin membagikan pengalaman menonton pertunjukan teater terakhir, karena hanya inilah ingatan saya masih fresh.

Sabtu, 14 April 2012, kami memutuskan untuk menonton teater di Taman Ismail Marzuki. Judulnya adalah Roro Mendut: Kisah Kasih Tak Sampai. Dari pengalaman nonton teater, saya pilih harga termurah agar tidak punya ekspektasi terlalu tinggi. Dan memang harga termurah itu sesuai dengan kantong: 150 ribu.

Kami datang agak terlambat, pukul 15.05, dan pertunjukan sudah dimulai. Mengapa terlambat? Karena sebelumnya kami harus mampir ke kantor di wilayah Kebayoran Baru. Alhamdulillah, dari kantor ke TIM tidak mengalami kemacetan berarti dan cukup setengah jam untuk menempuh perjalanan.

Kisah Roro Mendut adalah kisah rakyat yang diambil dari Babad Tanah Jawi. Roro Mendut ini seorang perempuan cantik yang hidup pada jaman Sultan Agung, abad ke-17 atau Kerajaan Mataram. Kisah Roro Mendut juga ditulis Romo Mangun, dalam Kompas sebagai cerita bersambung, 1982 – 1987. Romo Mangun menulis dalam trilogi: Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri. Tahun 2008, Gramedia menerbutkan trilogi tersebut dalam novel berjudul “Rara Mendut: Sebuah Trilogi“.

Sejatinya, Roro Mendut berasal dari Pati yang menolak ketika hendak dijadikan isti oleh Tumenggung Wiraguna. Roro Mendut memilih Pranacitra, seorang dari kampung nelayan di pantai utara Jawa (pantura). Kisah Roro Mendut memberikan karakter seorang perempuan yang memberontak di jamannya, tidak ragu, berani bersikap. Sosok seperti jelas mendobrak tatanan masyarakat Jawa pada saat itu, dimana perempuan harus bersikap lemah lembut dan patuh. Roro Mendut menunjukkan sikap perempuan yang mandiri, walaupun tidak umum pada jaman itu. Roro Mendut berani melawan kekuasaan dan menunjukkan bahwa tidak semuanya bisa didapatkan berbekal kekuasaan politis.

FYI, pertunjukan teater ini digagas oleh Banyumili Production, sebuah kelompok sosialita yang peduli budaya Indonesia. Produser eksekutif: Enny Sukamto, sutradara: Ida Soeseno. Beberapa pemain: Happy Salma (Roro Mendut), Ray Sahetapy (Tumenggung Wiraguna), dll.

Pertama, saya berikan apresiasi kepada tim teater. Bagaimanapun mereka telah memberi sumbangsih pementasan budaya, mengajak orang-orang untuk menghargai budaya Nusantara. Saya bukan ahli teater, hanya orang awam. Namun ada beberapa catatan dari teater ini:

– Karakter Roro Mendut sebagai perempuan sesuai kisah asli, ternyata kurang muncul. Sebenarnya saya berharap melihat Roro Mendut dengan karakter perempuan yang mandiri, kuat, dan berani melawan tradisi. Memang dalam beberapa adegan dan ucapan, ada beberapa yang menegaskan itu. Karakter yang muncul justru perempuan yang lemah dan terjerat percintaan picisan (seperti sinetron). Nggak banget deh. Ini catatan paling penting dari saya. Terus terang, imajinasi Roro Mendut sebagai perempuan mandiri, kuat, dan mendobrak tatanan masyarakat kurang muncul.

– Akting yang paling bagus: Ray Sahetapy. Yang lain masih biasa-biasa.

– Sound system buruk! Contoh: satu babak ketika Sultan mengumpulkan adipati. Suara Sultan Agung tidak terdengar nyaring. Saya tidak melihat Sultan Agung sebagai seorang raja yang berwibawa gara-gara suara kecil. Contoh lain: suara Adipati Pragolo, penguasa Pati, terdengar tidak jelas. Contoh lain: suara drum terdengar mendominasi suara gamelan.

– Kesalahan teknis: layar penutup lupa tidak diturunkan ketika penggantian babak. Saya tidak tahu ini kesalahan teknis atau memang disengaja. Terlihat beberapa orang berlarian dan mengangkat pernak pernik panggung.

– Disebelah kanan saya duduk seorang laki-laki yang selalu sibuk memotret. Berisik! Seharusnya kamera tidak boleh masuk ruang teater!

Saya coba cek twitter, contohnya @rockygerung dan saya retweet:

  • Teater adalah sekolah peradaban. Bukan butik para pesohor.#RoroMendut
  • Di ruang teater, rentetan shutter para pemotret terdengar seperti suara M-16. Biadab! #RoroMendut
  • Tanpa ide, pemain terbaik, lenyap ditelan naskah yang buruk#RoroMendut
  • Sebuah iPad tidak layak memotret pentas. Ia menghalangi tiga kepala (enam mata) di belakangnya! #RoroMendut
  • Di atas pentas, sebuah legenda harus disajikan secara legendaris. Imaji harus tiba sampai ke kursi penonton. #RoroMendu

Cek twitter dari @liachristie:

  • Yg menyelamatkan: Ray Sahetapy bagus, Happy Salma cukuplah (tapi gak didukung script & koreografi yg oke), Wayang Orang Bharata. #RoroMendut
  • Tata panggung: nyaris nude. #RoroMendut
  • Sound system: ancur abis. Microphone Sultan Agung gak nyala. Banyak suara bocor pula :(  #RoroMendut
  • Tata musik: jazzious gamelan? Didn’t work. Suara drumnya ganggu. Kayak band pengiring choir gereja. Bedanya, ini gak nyambung.#RoroMendut
  • Tata cahaya: lampu kuning di bagian kiri panggungnya bikin silau.#RoroMendut
  • Sama sekali tidak :( RT @IndonesiaKaya: TataCahaya menawan ddukung layarlebar & TataMusik eksotik membuat pementasan#RoroMendut sgt ciamik.
  • Ekspektasi ketinggian untuk pertunjukan #RoroMendut. Kecewa. Dgn HTM yg mahal di atas rata-rata, jadi gak worthed. So sorry,@IndonesiaKaya.

Agar lebih berimbang, silakan cek pula komen di twitter #RoroMendut di http://chirpstory.com/li/6302. Disini bisa menemukan pujian dan kekecewaan.

Foto-foto pertunjukan teater Roro Mendut bisa dilihat berbagai sumber, salah satunya adalah Detik.com, cek disini.

Kompas hari Minggu, 15 April 2012 bahkan menampilkan foto pertunjukan teater Roro Mendut di halaman depan. Kompas mengambil sudut pandang gerakan budaya kaum sosialita. Teater Roro Mendut hanya ditampilkan sebagai contoh. Kompas tidak mengulas Roro Mendut secara detail. Saya tebak karena akan banyak kritik, hahaha

Buat saya, satu kesimpulan: Pemain terbaik dan terkenal tanpa didukung konsep dan teknis yang bagus, maka tak akan muncul pertunjukan sempurna.

Comments are closed.

© 2017 ARIP MUTTAQIEN.