Soegija: 100 % katolik, 100 % Indonesia

June 19, 2012 @
Soegija: 100 % katolik, 100 % Indonesia

Sebelumnya saya sama sekali tidak tahu siapa itu Soegija. Tiga minggu sebelum ini saya memang sempat melihat beberapa buku berjudul Soegija di Gramedia Depok. Barulah setelah muncul promosi film Soegija, saya baru tertarik dengan tokoh ini.

Apa yang membuat saya tertarik dengan Soegija? Tentu saja karena melihat nama Garin Nugroho sebagai sutradara. Setidaknya ada jaminan jika sebuah film digarap oleh Garin Nugroho.

Saya adalah seseorang yang suka membaca sejarah. Sejarah memang hanya catatan masa lampau. Memang tidak elok sering melihat masa lampau, karena kita hidup di hari ini dan masa depan. Namun tidak ada salahnya kita belajar dari sejarah, agar tidak mengulang kesalahan.

Film Soegija mengisahkan seorang imam katolik bernama Soegijapranata, bernama lengkap Mgr. Albertus Soegijapranata S.J.. Peran Soegija sudah diakui dalam perjuangan kemerdekaan, tidak dengan berperang mengangkat senjata, namun lebih ke arah diplomasi. Soegija bukanlah seorang tentara. Soegija ini istimewa. Dia adalah uskup pribumi pertama di Nusantara, diangkap menjadi pemimpin sebelum Indonesia merdeka.

Film ini berlatar belakang awal 1940 hingga 1949. Masa ini adalah jaman peralihan, dari kolonial Belanda, penjajahan Jepang, proklamasi Republik Indonesia, perjuangan mempertahankan bayi republik, dan pengakuan kedaulatan republik. Satu hal yang menarika dalah kita bisa mendengar beberapa bahasa di film ini: Indonesia, Jawa, Belanda, Inggris, Latin, Jepang, dan Cina. Ini adalah ciri khas menarik karena sesuai dengan konteks saat itu. Mendengar film dalam bahasa asli lebih mengasyikkan daripada dubbing bahasa.

Penobatan Soegija sebagai pemimpin vikariat Semarang adalah kejadian penting. Seorang pribumi mendapat kepercayaan memimpin umat katolik. Pasa masa itu, diskriminasi bukan hal asing. Tradisi katolik masih mempraktikkan cium cincin uskup sebagai tanda penghormatan. Apakah mungkin seorang pejabat Belanda yang beragama katolik mau mencium cincin di tangan Soegija? Pada sebuah peristiwa, Gubernur Orie dalam sebuah pertemuan, dia berlutut di hadapan Soegija, selanjutnya mencium cincin pada jari kulit coklat. Peristiwa ini mencairkan ketegangan benturan supremasi Belanda dan katolik. Ternyata katolik mampu mengatasi rasialisme Belanda.

Film ini tidak melulu mengisahkan tentang Soegija. Beberapa tokoh dimunculkan untuk menambah alur cerita dalam film ini. Beberapa dikonstruksikan dalam kisah-kisah yang cukup detail. Misalnya, Lingling dan Kakek Lingling yang berpisah dengan Ibu Lingling ketika penjajah Jepang masuk ke Indonesia. Lingling sempat terpuruk dalam beberapa tahun karena berpisah dengan Ibu kandungnya.

Kisah lain adalah Koster Toegimin sebagai pelayan Soegija, yang memainkan peran cukup unik. Koster Toegimin memerankan banyak peran lucu yang mengimbangi peran serius Soegija. Mariyem mendapatkan peran yang besar dalam film ini. Alkisah, Mariyem adalah lulusan sekolah perawat. Peran Mariyem sangat besar dalam membantu pejuang kemerdekaan. Dan peran detail Mariyem cukup banyak diceritakan dalam film ini, termasuk Hendrick, seorang wartawan Belanda yang selalu mengikuti Mariyem.

Satu kekurangan film ini (menurut saya) adalah alur waktu yang terkesan dipercepat. Misalnya, saya baru merasa berpikir saya berada dalam jaman penjajahan Jepang. Tak lama kemudian, Indonesia sudah merdeka. Detail-detail penjajahan Jepang tidak banyak ditampilkan. Walaupun demikian, kekurangan ini tidak menutup beberapa pesan utama lain. Atau penulis skenario ingin menampilkan pesan utama yang lain.

Bentuk dukungan nyata Soegija adalah memindahkan vikariat Semarang ke Yogyakarta sebagai bentuk dukungan untuk Republik Indonesia. Segmen ini mendapatkan bagian cukup berarti. Misalnya, bagaimana ketika Soegija memindahkan pusat keuskupan dari Semarang ke Yogyakarta. Bagaimana ketika Soegija mengusahakan dukungan diplomasi dari Vatikan untuk Republik Indonesia.

Satu kritik dari sekelompok masyarakat adalah film Soegija cenderung mengarahkan pada “kristenisasi”. Saya sendiri melihat film ini secara utuh, dari awal hingga akhir, tidak melihat isu kristenisasi. Toh, apa salahnya menampilkan sosok seorang pastur dalam sebuah film? Ini tidak ada bedanya dengan seorang Ahmad Dahlan yang ditampilkan dalam sebuah film. Saya melihat lebih banyak nilai ke-Indonesia-an yang muncul dalam film ini.

Jika memang ini adalah film kristenisasi, mengapa justru banyak pemain film adalah muslim? Apakah iya, ketika saya menonton film-film Barat, lalu tiba-tiba saya mengikuti nilai-nilai Barat? Apakah iya, ketika saya menonton Angels & Demons dengan latar belakang gereja Vatikan, iman saya tiba-tiba luntur?

Lalu saya tidak banyak mendengar kalimat-kalimat kristenisasi. Justru yang lebih menonjol adalah ungkapan-ungkapan yang menjunjung nilai kebangsaan, seperti:

Negara tugasnya memelihara, menyatukan, mengatur, serta mengurus kehidupan rakyat…terarah pada kesejahteraan, ketentraman, kepentingan umum yang bersifat sementara, lahiriah, dan duniawi. Sedangkan gereja katolik bertugas memelihara, membimbing, dan mengembangkan kehidupan rohani manusia.

Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal usul dan ragamnya.

Kemanusiaan ini bisa terlihat dari beberapa contoh adegan film. Misalnya, Nobuzuki, sosok Jepang yang kejam ini ternyata sangat lembut jika berhubungan dengan anak-anak. Hatinya luluh ketika seorang pemusik menolak datang ke markasnya karena pemusik itu punya anak dan istri di luar kota. Robert, seorang tentara Belanda yang sudah banyak membunuh manusia, justru luluh hatinya ketika melihat bayi mungil tak berdosa di hadapan dia. Gencatan senjata di Semarang setelah pertempuran lima hari di Semarang, tidak dapat dilepaskan dari peran Soegija. Demi alasan kemanusiaan, gencatan senjata tidak bisa ditunda lagi.

Bayi-bayi sudah mulai mati. Sebab, ibu-ibu tak lagi punya air susu. Sudah beberapa hari tak ada yang dimana.

Sebagai sebuah film, saya menilai Soegija adalah film menarik yang patut ditonton. Sebagai seorang Indonesia, film ini bisa menambah nilai kebangsaan. Keanekaragaman itu nyata. Sesuai dengan gagasan Soegija:

100 % katolik, 100 % Indonesia

Formula Soegija ini menjadi sebuah kisah bagaimana merajut republik diawal kemerdekaan.

Selamat menonton.

 

Comments are closed.

© 2017 ARIP MUTTAQIEN.